Indonesia Butuh Strategi Kebudayaan, Bukan Revolusi Budaya

Berita310 Views

Jakarta – Zainut Tauhid Sa’adi menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi arus globalisasi yang sangat dinamis dan multidimensional. Dalam situasi tersebut, menurutnya, Indonesia tidak memerlukan revolusi kebudayaan, melainkan strategi kebudayaan yang kokoh dan adaptif.

“Indonesia membutuhkan strategi kebudayaan untuk bertahan di tengah pusaran global,” ujar  Zainut dalam pernyataannya.

Peran Sejarah Budaya Islam dalam Menjawab Tantangan

Lebih lanjut,  Zainut mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang kaya dalam menghadapi tantangan ideologis melalui seni dan budaya. Pada masa lalu, seni dan budaya sempat digunakan sebagai alat propaganda ideologi yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Namun, para seniman dan budayawan muslim merespons dengan bijak. Mereka membentuk wadah seperti Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang didukung tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka, Bahrum Rangkuti, Junan Helmy Nasution, dan H. Sudirman. Selain itu, lahir pula Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang diprakarsai oleh seniman nasional seperti Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani.

“HSBI yang berafiliasi dengan Masyumi dan Muhammadiyah, serta LESBUMI yang berafiliasi dengan NU, berperan penting dalam memperjuangkan seni dan budaya yang berpijak pada nilai-nilai agama sebagai pandangan hidup bangsa,” jelas Zainut.

Seni dan Budaya Harus Tetap Berorientasi pada Nilai Keindonesiaan

Dalam konteks kekinian, Wamenag mengingatkan bahwa media dan ekspresi seni generasi milenial tidak boleh kehilangan orientasi terhadap jati diri bangsa. Budaya Indonesia yang berakar pada nilai keagamaan dan norma ketimuran harus tetap dijaga.

“Sarana dan media seni-budaya generasi milenial harus menjunjung tinggi norma kesopanan dan nilai-nilai keindonesiaan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa seni dan budaya Indonesia tidak boleh dipisahkan dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yang bermoral, beragama, dan berkeadaban.

Ketahanan Kultural di Tengah Arus Budaya Global

Di tengah derasnya arus budaya global dan perkembangan teknologi informasi, Zainut menekankan pentingnya ketahanan budaya dan kemampuan masyarakat dalam menyaring pengaruh luar.

“Ketahanan kultural paling kokoh adalah yang bersumber dari pandangan hidup, akidah, dan nilai-nilai agama yang kita yakini,” pesannya.

Menurutnya, budaya Indonesia harus mampu menyaring unsur budaya luar yang tidak selaras dengan nilai luhur bangsa. Ketahanan ini penting agar masyarakat tetap berakar pada identitas nasional, tanpa kehilangan relevansi di era global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *