Neno Warisman & Putra Gara: Menyulam Ruh Seni dan Iman di Galeri Darmin Kopi

Berita Budaya211 Views

Sabtu, 8 November 2025, menjadi momen bersejarah bagi seniman dan sastrawan Putra Gara, saat ia membuka Pameran Lukisan Tunggal II-nya yang menggandeng ruang nongkrong sederhana menjadi galeri penuh makna. Ia tidak sendiri. Malam itu, hadir sosok yang dikenal tidak hanya sebagai artis dan aktivis, tetapi juga penggerak nilai-nilai budaya Islam — Neno Warisman.

Sebagai Dewan Pembina Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) sekaligus Tim Ahli Kementerian Kebudayaan RI, Neno Warisman didapuk membuka pameran tersebut. Dengan ketulusan yang khas, ia mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertamanya membuka pameran lukisan.

“Terus terang ini hal baru bagi saya. Tapi saya sungguh mengapresiasi karya Putra Gara yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi mengandung ruh spiritual yang dalam,” tutur Neno dalam sambutannya.

Ia menambahkan, inisiatif seperti ini selaras dengan visi Menteri Kebudayaan yang tengah mendorong agar kegiatan seni tidak hanya hidup di gedung-gedung megah seperti Taman Ismail Marzuki, tetapi juga tumbuh di ruang-ruang komunitas.

“Galeri Darmin Kopi bisa menjadi oase baru bagi geliat seni dan budaya di Jakarta Selatan. Tempat seperti ini justru menghadirkan kedekatan yang tulus antara seniman dan masyarakat,” ujar Neno penuh semangat.

Pameran ini tak berhenti pada karya rupa. Selama dua pekan, 8–20 November 2025, Galeri Darmin Kopi akan menjadi ruang pertemuan lintas disiplin: diskusi sastra, pemutaran film, dan pembacaan puisi. Pada malam pembukaan, penyair Shantined membacakan puisi dengan lirih menggugah, sementara Ismail Lutan, Ketua Umum Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) sekaligus pengurus HSBI Bidang Sastra, menuturkan testimoni perjalanan kreatif Putra Gara yang konsisten menghidupkan tradisi dan spiritualitas dalam karya.

Di tengah keakraban para seniman, jurnalis, dan penggiat budaya, Putra Gara tampak bahagia. Dalam nada rendah, ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang mendukung, terutama kepada sosok yang menginspirasinya.

“Saya berterima kasih kepada Mbak Neno dan semua kawan yang hadir. Pameran ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang semangat kita menjaga seni dan budaya Islam agar tetap bernyawa,” ujar Putra Gara, yang juga Wakil Ketua Bidang Sastra HSBI.

Lukisan-lukisan Putra Gara dalam pameran ini menampilkan perjalanan batin seorang seniman: warna-warna yang tidak hanya membentuk gambar, tetapi menuturkan kisah tentang pencarian makna, doa, dan kemanusiaan.

Galeri Darmin Kopi, yang biasanya menjadi ruang perjumpaan sederhana para pecinta kopi, kini menjelma menjadi ruang spiritual baru bagi seni Islam. Sebuah tempat di mana diskusi, puisi, dan lukisan menyatu dalam satu ruh — ruh keindahan yang beradab.

“Seni bukan sekadar ekspresi, tetapi cara kita bersyukur. Dalam setiap warna dan goresan, ada doa yang hidup,” kata Neno menutup malam itu, sebelum seluruh hadirin bertepuk tangan.

Malam itu, Jakarta tak hanya menyaksikan pembukaan sebuah pameran lukisan. Ia menyaksikan pertemuan dua jiwa seni  Neno Warisman dan Putra Gara  yang sama-sama percaya bahwa seni adalah ibadah, dan kebudayaan adalah jalan menuju peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *