70 Tahun HSBI, Dari Panggung Dakwah hingga Ruang Digital Dalam Genggaman

JAKARTA, 24 September 2026 – Tujuh puluh tahun perjalanan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) merupakan perjalanan panjang tentang bagaimana seni dan kebudayaan digunakan sebagai bahasa untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

Hari ini, 24 September 2026, HSBI genap berusia 70 tahun. Tujuh dekade setelah organisasi ini berdiri, cara masyarakat menikmati seni dan menerima pesan pun telah berubah. Jika dahulu panggung pertunjukan, sandiwara radio, film dan televisi menjadi ruang bertemunya karya dengan penonton, kini ruang tersebut semakin banyak berpindah ke dunia digital.

Panggung itu ada di layar telepon pintar. Berada di dalam genggaman masyarakat.

Perubahan zaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan HSBI untuk terus membawa semangat dakwah kultural ke medium yang lebih dekat dengan kehidupan generasi hari ini.

 

Berawal dari Gagasan Dakwah Melalui Seni

HSBI lahir pada 24 September 1956 dari gagasan untuk menjadikan seni dan kebudayaan sebagai salah satu sarana dakwah.

Sejarah HSBI tidak dapat dilepaskan dari H. Abdullah Aidid, yang melihat potensi seni dan kebudayaan sebagai media untuk menyampaikan pesan keislaman. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan bersama M. Nur Alian hingga akhirnya HSBI berdiri dengan dukungan Menteri Agama saat itu, KH Mohamad Iljas.

Pada masa awal perjalanannya, HSBI tidak sekadar berbicara tentang seni sebagai hiburan. Panggung pertunjukan menjadi ruang untuk menyampaikan cerita, nilai dan pesan kepada masyarakat.

Salah satu catatan penting terjadi pada 1961 ketika HSBI menggelar drama kolosal “Titik Terang” dalam rangka peringatan Maulid Nabi. Pertunjukan tersebut digelar dalam skala besar dan disebut disaksikan puluhan ribu penonton.

Pada 1963, HSBI juga menggelar “Pesta Penjair Islam”, yang melibatkan pemuda dari sejumlah organisasi Islam.

Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal HSBI dalam menjadikan seni sebagai medium komunikasi dan dakwah kultural.

 

Dari Panggung ke Radio, Film dan Televisi

Seiring perjalanan waktu, dunia seni Indonesia terus berkembang. HSBI pun bersentuhan dengan berbagai medium dan generasi seniman.

Sejumlah nama seperti Junan Helmy Nasution, Mukhtar Sum, Amoroso Katamsi, Asrul Sani, Aty Cancer, Etty Sumiaty, dan Anna Satryana Lubis, serta sejumlah artis, seniman, budayawan dan tokoh lainnya menjadi bagian dari cerita panjang seni dan kebudayaan Islam yang berkembang lintas generasi.

Masing-masing datang dengan zaman dan pengalaman yang berbeda. Ada yang tumbuh dari panggung pertunjukan. Ada yang dikenal melalui sandiwara radio. Ada pula yang berkiprah melalui film dan televisi.

Saat itu, untuk bertemu dengan penonton, sebuah karya membutuhkan panggung, studio radio, layar bioskop atau jadwal tayang televisi.

Kini, keadaan berubah. Masyarakat dapat menonton sebuah karya kapan saja. Sebuah cerita dapat dibuat dan disebarkan melalui perangkat yang ada di tangan.

 

Layar gadget telah menjadi panggung baru.

Memasuki usia ke-70, HSBI menghadapi generasi yang memiliki cara berbeda dalam mencari informasi, menikmati hiburan dan menerima pesan.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. (Hon) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. dan Sekretaris Jenderal Abbrory Djabbar, SH, semangat untuk menjaga seni dan kebudayaan Islam terus diarahkan agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Salah satu bentuk adaptasi tersebut hadir melalui gagasan TiviQu.id.

Platform ini digagas oleh Bony Faisal, selaku Founder TiviQu.id, dengan konsep tayangan layar vertikal (vertical screen) berdurasi singkat sekitar dua menit.

Konsep tersebut mencoba mendekatkan karya dakwah dan seni dengan kebiasaan masyarakat digital yang semakin akrab dengan video pendek melalui telepon pintar.

 

TiviQu.id, Ruang Dakwah Digital dalam Genggaman

TiviQu.id diarahkan menjadi ruang dakwah digital yang hadir dalam genggaman masyarakat.

Melalui layar gadget, pesan-pesan kebaikan, nilai keislaman, edukasi, seni dan kebudayaan dapat hadir lebih dekat dengan keseharian penonton.

Dakwah tidak harus selalu berlangsung di mimbar atau di atas panggung. Di era digital, dakwah juga dapat hadir melalui sebuah cerita pendek, film mini, drama, komedi, musik, kisah keluarga, maupun cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari.

Format dua menit menjadi tantangan tersendiri bagi para kreator. Dalam waktu yang singkat, sebuah karya dituntut mampu menghadirkan cerita yang menarik sekaligus meninggalkan pesan bagi penonton.

Melalui Platform inilah  konsep “Dakwah ” dikembangkan.

TiviQu.id tidak hanya diarahkan sebagai ruang penyampaian pesan moral, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang memberikan peluang bagi kreator untuk mengembangkan dan mendapatkan manfaat ekonomi dari karya mereka.

Dengan demikian, dakwah, seni, teknologi dan kreativitas dapat bertemu dalam satu ruang digital.

Pengembangan gagasan tersebut juga didukung Budi Sumarno sebelumnya membangun SinemaKita/sinemakita.com, sampai sekarang, dimana akhirnya Sinemakita.com dan TiviQu.id berkolaborasi  menjadi bagian dari kiprahnya dalam pengembangan ekosistem perfilman dan distribusi karya audiovisual.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa perjalanan sebuah karya tidak berhenti pada proses produksi. Setelah sebuah karya selesai dibuat, masih ada persoalan bagaimana karya tersebut menemukan penonton dan bagaimana kreator dapat terus berkarya.

Dalam konteks inilah Sinemakita.com dan TiviQu.id mencoba membuka ruang baru.

Jika sebelumnya layar bioskop dan televisi menjadi ruang utama untuk menikmati karya audiovisual, maka kini layar vertikal gadget menjadi salah satu ruang baru untuk bercerita dan berdakwah.

Di tengah banjir konten digital, tantangan TiviQu.id bukan sekadar membuat video yang pendek.

Ada pertanyaan yang lebih penting: apa yang ingin disampaikan kepada penonton?

Karena itu, proses kurasi menjadi bagian penting dalam pengembangan platform.

Bony Faisal, bersama Bedjo Soelaktono, Ketua Bidang Perfilman HSBI, terlibat dalam Tim Kurasi Layar Vertikal TiviQu.id.

Karya yang ditayangkan diharapkan memiliki cerita yang kuat, kualitas visual yang baik, nilai edukasi, pesan yang relevan, serta tetap membawa semangat dakwah kultural.

Pesan tersebut dapat hadir melalui cerita yang sederhana dan dekat dengan manusia.

Tentang keluarga, Tentang persahabatan,Tentang perjuangan,Tentang kejujuran.

Tentang kepedulian social, Loka Wisdom.

Cerita yang mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan kebaikan.

 

Tujuh Dekade dan Estafet yang Terus Berjalan

Perjalanan HSBI selama 70 tahun memperlihatkan bahwa medium dakwah dapat berubah mengikuti zaman. Dari panggung pertunjukan, berlanjut melalui radio, Dari radio menuju film dan televise, Dan kini, sebagian perjalanan itu memasuki ruang digital.

 

Nilainya tetap, medianya yang berubah.

Jika generasi terdahulu memiliki panggung untuk menyampaikan cerita kepada ribuan penonton, generasi hari ini memiliki layar kecil yang dapat menjangkau masyarakat kapan saja dan di mana saja.

Di usia ke-70, HSBI mengajak para seniman, budayawan, artis, kader dan kreator Muslim di berbagai daerah untuk terus berkarya melalui bidang masing-masing—teater, sastra, seni rupa, musik, film maupun media digital.

TiviQu.id menjadi salah satu gagasan yang membawa semangat tersebut ke ruang baru: ruang dakwah digital yang berada dalam genggaman masyarakat.

Sebab, tujuh puluh tahun perjalanan HSBI bukan hanya tentang bagaimana mengenang karya para pendahulu.

Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah tentang bagaimana estafet berkarya dan berdakwah terus diteruskan dengan bahasa yang dipahami oleh setiap generasi.

Hari ini, bahasa itu bisa hadir melalui layar vertikal.

Sebuah layar kecil di tangan.

Tetapi dari layar kecil itu, cerita dan pesan kebaikan dapat menemukan jalan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. (BS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *