Neno Warisman Resmikan Pameran “Betawi Punye Yahye”, Angkat Identitas Budaya Betawi di Tengah Dinamika Kota

Penyanyi senior sekaligus budayawan yang juga adalah dewan pembina HSBI, Neno Warisman, meresmikan pameran lukisan tunggal bertajuk “Betawi Punye Yahye” karya perupa Yahya TS yang juga ketua bidang seni lukis HSBI pada Sabtu (4/4/2026) malam. Pameran yang berlangsung di Ruang Darmin ini dijadwalkan dibuka untuk publik hingga 15 April 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan 40 tahun Himpunan Pelukis Jakarta (HIPTA), yang selama ini dikenal sebagai wadah silaturahmi, dialog kreatif, serta pengembangan seni rupa di Jakarta. Di bawah kepemimpinan Dedi Yusmen, HIPTA dinilai konsisten menjaga keberlanjutan praktik seni rupa di ibu kota.

Dalam pameran bertajuk Yahya Solo Exhibition ini, Yahya TS menampilkan 13 karya lukisan bertema budaya Betawi. Melalui pendekatan visual yang ekspresif dan naratif, ia menghadirkan potret kehidupan masyarakat Betawi mulai dari sosok, suasana, hingga simbol keseharian dalam perspektif yang segar dan reflektif.

“‘Betawi Punye Yahye’ bukan sekadar klaim identitas, tetapi pernyataan cinta, dialog, dan tafsir ulang terhadap akar tradisi di tengah perubahan kota yang begitu cepat,” ujar Yahya TS.

Ia menjelaskan bahwa karya-karya tersebut merupakan hasil eksplorasi terbaru yang sebelumnya disimpan secara khusus, dengan fokus pada pengangkatan nilai serta dinamika budaya Betawi di Indonesia.

Dalam sambutannya, Neno Warisman menegaskan pentingnya praktik seni yang berakar pada identitas lokal. Menurutnya, karya Yahya TS menjadi kontribusi penting dalam memperkaya khazanah budaya nasional.

Ia juga menyinggung peran Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang dipimpin Fadli Zon dalam membuka peluang lebih luas bagi para seniman Tanah Air.

“Ini adalah upaya peradaban yang mulia. Hari ini Yahya punya Betawi, dan Betawi punya Yahya,” kata Neno.

Neno berharap pameran ini dapat menarik perhatian tidak hanya dari kalangan seniman, tetapi juga masyarakat luas, khususnya warga Jakarta dan sekitarnya.

Sementara itu, kurator pameran Semut Prasidha menilai karya-karya Yahya TS sebagai upaya merawat memori kolektif sekaligus membangun bahasa visual yang jujur dan intuitif. Semut, yang juga dikenal sebagai pelukis dari Institut Kesenian Jakarta, menilai konsistensi Yahya dalam mengeksplorasi karakter Betawi terlihat kuat melalui permainan warna dan garis.

“Setiap kanvas menjadi ruang perjumpaan antara nostalgia dan realitas kontemporer, antara kelakar khas Betawi dan perenungan yang lebih dalam,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan Dewan Kesenian Jakarta, Aidil Usman. Ia menilai karya Yahya tidak hanya berakar pada budaya Betawi, tetapi juga menyentuh dimensi antropologis serta kompleksitas dinamika kota Jakarta.

Menurut Aidil, keberanian Yahya dalam mengeksplorasi identitas dan pengalaman urban menjadi kekuatan utama yang membuat karyanya terus berkembang.

Pameran “Betawi Punye Yahye” diharapkan menjadi momentum penting bagi kebangkitan seniman lokal dalam mengekspresikan kekayaan budaya Indonesia, sekaligus memperkuat posisi seni rupa sebagai medium refleksi sosial dan identitas bangsa. (Red)